Sabtu, 05 November 2011

Menyimpan Data Yang Aman Dari "VIRUS"

Menyimpan data merupakan suatu kegiatan yang pasti dan harus dilakukan oleh pengguna komputer. Biasanya data disimpan pada harddrive seperti harddisk, disket, flashdisk dll. Tapi bagaimana jika data yang disimpan itu diserang oleh virus? Ini adalah sebuah masalah besar. Saat ini perkembangan virus semakin menjadi-jadi. Namun kita pun harus cerdas menyikapinya. Salah satunya ialah dengan menggunakan antivirus. Namun kelemahan antivirus ini adalah terkadang data yang diserang virus tak bisa terselamatkan. Oleh karena itu, berikut ini ada sedikit tips bagaimana menyimpan data supaya aman dari virus. Dan tips ini saya rasa sangat cocok untuk penyimpanan pada flashdisk. 
Pertama. Compres data yang ingin kita simpan ke flashdisk menggunakan winzip atau winrar. Karena virus jarang menginfeksi file yang terdapat dalam file *.zip. 
Kedua. Simpanlah data (terutama hasil ketikan) anda dengan forman *.txt, caranya ialah dengan mensave ketikan anda dengan format txt (Pilih save as). Virus juga jarang menginfeksi file dengan format *.txt 
Ketiga, simpanlah data dengan format html, caranya ialah dengan meng save as dokumen, lalu rubah type file nya menjadi htm

10 Website ILMU PENGETAHUAN ( Wajib Di Kunjungi )

1. National Geographic : Pengguna web disarankan untuk tidak melewatkan situs ini. Bukan hanya informasi mengenai kehidupan bumi saja, tetapi juga menampilkan data-data yang mencengangkan, informatif, serta ditulis secara ilmiah.
2. flashearth.com : Google Earth tidak hanya pilihan bagi Anda untuk melihat tampilan satelit dan peta global. Satu persatu, citra satelit mengenai cuaca bumi yang diperbarui setiap hari, ditampilkan dan menggunakan animasi flash.
3. Times Online: Environment : Berdampingan dengan halaman The Times’s Science, berita dan feature di timesonline.co.uk/tol/news/environment begitu berkualitas bagi semua orang yang tertarik dengan jurnal lingkungan, dengan pengkhususan pada laut, kehutanan, alam, dan materi lain.
4. vimeo.com : YouTube adalah surganya video bagi pencari data. Para pembuat karya dokumenter menampilkan video mereka di situs ini di mana banyak diantaranya berkualitas baik.
5. earthcam.com : Situs ini menampilkan koleksi lengkap mengenai keadaan dunia, secara nyata melalui webcam. Kecanggihan teknologi telah menyertai layanan ini.
6. Travel IQ : Website kuis geografi terbaik di internet, mikrosite dari TravelIPod, komunitas dari travel blogger, memiliki 12 level kesulitan. Anda harus memenuhi standar skor untuk mendapatkan kesempatan naik level.
7. nature.org : Website resmi dari Nature Conservancy, organisasi di Amerika Serikat dengan jutaan anggota serta 720 staf ahli, memiliki otoritas masing-masing dari burung, bendungan dan kehutanan.
8. nongabay.com : Tidak seperti blog populer TreeHugger, situng Mongabay ini menampilkan lingkungan dengan kejutan yang tidak biasa. Misalnya saja Interview dengan pegulat anaconda muda.
9. earthshots.org : Website yang tidak menyulitkan dengan tampilan alam terbaik serta pemenang dari kompetisi foto terbaik. Anda bisa mengambil foto dan juga menampilkan di situs itu.
10. Google Public Data : Grafik yang mengesankan dari google.com/publicdata/home mengungkapkan semuanya dari bagaimana populasi planet berkembang hingga emisi CO2 selama kurun 40 tahun ke belakang. Ini seperti permata tersembunyi, namun dengan banyak penelitian dari Google, website ini benar benar mengagetkan.

Ternyata Wi Fi Berbahaya WARNING....!!!!

Penelitian terhadap dampak radiasi sinyal nirkabel pada manusia umumnya tidak menghasilkan kesimpulan yang kongkrit. Akan tetapi, dari penelitian terbaru yang dilakukan terhadap pohon, terungkap bahwa makhluk hidup yang satu ini lebih ringkih dibanding manusia. Penelitian yang dilakukan oleh Wageningen University menemukan bahwa pepohonan yang tumbuh di kawasan yang memiliki aktivitas WiFi tinggi, khususnya di kawasan pemukiman penduduk, menderita gejala yang tidak sama dengan gejala yang disebabkan oleh bakteri atau virus.Seperti dikutip dari PopSci, gejala-gejala yang muncul pada pohon termasuk di antaranya adalah pendarahan, celah di kulit, matinya bagian tertentu dari daun, serta pertumbuhan yang abnormal. Untuk mengujicoba hipotesa apakah penyebab penyakit misterius tersebut diakibatkan oleh radiasi WiFi, peneliti menggunakan 20 pohon ash atau Fraxinus dan memberikan berbagai tingkat radiasi pada pohon-pohon tersebut selama 3 bulan. Ternyata, pohon yang terekspos sinyal WiFi menunjukkan tanda-tanda penyakit akibat radiasi, termasuk warna seperti timah pada daun-daunnya, yang mengindikasikan bahwa daun tersebut akan segera mati. Sebagai gambaran, di negara seperti Belanda, sekitar 70 persen pepohonan di kawasan pemukiman mengalami efek samping dari radiasi. Angkanya naik dari hanya 10 persen pada 5 tahun lalu. Ini merupakan hal yang lumrah mengingat penggunaan WiFi telah meroket pada beberapa tahun terakhir. Saat ini, para ilmuwan akan melakukan sejumlah penelitian lain untuk mengetahui lebih lanjut seputar radiasi pada pertumbuhan tanaman. Dan sayangnya, belum ada solusi yang dapat diberikan bagi pepohonan akibat dampak buruk penggunaan WiFi tersebut.