Pada hari Rabu 23-11-2011 sekitar pkl 15.00 Wib, terjadi tindak pidana pembunuhan dihutan taman kota ikut Kel.Wulung Kec.Randublatung Blora, Korban atas nama Ahmad edi nurwandi, pelajar SLTA, umur 17 tahun alamat Dukuh Nglaren Desa Mendenrejo Kec Kradenan. Kemudian tersangka yang tertangkap oleh warga/massa didalam hutan Randublatung An. Yanto,30th,pekerjaan pengamen, alamat Ds.janjang RT5 RW 1 kec.Jiken Blora, dan.tersangka kedua atas nama Gunawan umur 22th pekerjaan pengamen alamat Ds.Nglebur kec.jiken Kab.Blora. Kronologis kejadian korban sedang istirahat / pacaran di belakang rumah perhutani (rumah kosong) bersama rekan korban Herlina (umur 17 tahun alamat Dukuh Nglaren desa Mendenrejo Kec kradenan) kemudian didatangi oleh dua orang (yanto dan gunawan) dan meminta sepeda motor korban dengan paksa. Karena korban tidak mau menyerahkan motornya, terjadilan duel antara korban dengan Sdr Yanto dimana Sdr Yanto menggunakan pisau. tanpa disadari korban, Sdr Gunawan memukul korban di kepala bagian belakang dengan menggunakan Kayu dan akhirnya korban terjatuh. Sedangkan pacar korban yang bernama Herlina melarikan diri untuk meminta pertolongan warga. Selanjutnya para pelaku melarikan diri ke arah hutan dan tanpa mereka sadari mereka dikejar oleh warga dan tertangkap di hutan. selanjutnya oleh pacar korban (Sdr Herlina), korban (Sdr Ahmad edi Nurwandi) langsung dibawa ke Puskesmas Randublatung untuk mendapatkan pertolongan. Korban meninggal dunia saat di Puskesmas Randublatung. Sedangkan para pelaku sudah diamankan di Polres Blora berikut barang bukti berupa sebilah pisau untuk menodong korban dan sebilah Kayu yang digunakan untuk memukul korban hinggal meninggal. Tersangka yang bernama gunawan ini merupakan salah satu orang yang berkaitan dengan kejadian perampasan sepeda motor honda Mega Pro yang terjadi siang bolong di daerah Cabak beberapa bulan lalu. Diduga dia juga terkait dengan beberapa kasus kriminal lainnya. sumber : http://polresblora.com/berita-330-pembunuhan-di-hutan-kota-randublatung.html
Sabtu, 26 November 2011
Sebagian Besar Toko Online di Indonesia Palsu
Posted on 11.45 by e with No comments
JAKARTA, KOMPAS.com - Pembeli harus waspada saat membeli produk atau jasa di toko online, baik itu yang menggunakan situs buatan atau melalui situs jejaring sosial Facebook. Pasalnya, sekitar 70 persen produk atau jasa yang dijual itu palsu. Direktorat Jenderal Hak Kekayaan dan Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM, Ahmad M Ramli menyatakan pemerintah saat ini sedang mendata pemilik toko baik di toko online maupun toko konvensional, termasuk produk atau jasa yang dijual. "Kita juga sedang menyasar toko online, karena 70 persen dari toko online itu banyak yang menjual produk palsu," kata Ramli di Jakarta, Selasa (14/11/2011). Namun, Ramli masih enggan menyebutkan jumlah toko online yang sudah disurvei yang menjual produk atau jasa palsu tersebut. Ramli mencontohkan pada toko online yang menjual produk obat banyak memalsukan isinya dengan tepung dan cat tembok. Jika demikian, pengguna yang membeli barang palsu tersebut malah tambah sakit karena keracunan. Begitu juga dengan produk otomotif baik sepeda motor atau mobil yang dijual terlalu murah. Ramli menduga penurunan harga itu disebabkan karena penjual mencampur suku cadang yang sudah kadaluarsa atau kualitas rendah sehingga tidak membayar royalti ke pemegang merek. "Pengaturan ini lebih disebabkan karena kami ingin melindungi hak konsumen. Bagaimanapun, masyarakat juga punya hak memakai produk atau jasa yang benar dan aman," jelasnya. Pernyataan dari perwakilan pemerintah ini bukan tanpa sebab karena tingkat konsumsi barang palsu di Indonesia termasuk sangat tinggi. Sekadar catatan, hal itu pernah diungkap dari hasil survei yang dilakukan Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) dan LPEM-FEUI yang melibatkan 500 responden di Jakarta dan Surabaya. Sektor industri dengan barang palsu yang masih banyak beredar di pasar dan digunakan masyarakat yaitu pakaian (30,2 persen), software (34,1 persen), barang dari kulit (35,7 persen), sparepart (16,8 persen), lampu (16,4 persen), elektronik (13,7 persen), rokok (11,5 persen), minuman (8,9 persen), pestisida (7,7 persen), oli (7 persen), kosmetika (7 persen), dan farmasi (3,5 persen). Pemalsuan tertinggi dari sektor industri barang yaitu produk kulit dan software. Kedua jenis ini memiliki perbedaan harga yang sangat tinggi antar produk asli dan palsu.Microsoft Cari Local Heroes Software di Indonesia
Posted on 11.32 by e with No comments
TEMPO Interaktif, Jakarta - Microsoft Indonesia kini sedang mencari para "local heroes" yang sukses mengembangkan software buatannya. "Untuk mendorong semakin banyak orang membuat software," kata Hermawan Sutanto, Director Central Marketing Organization Microsoft Indonesia, di Jakarta, Jumat, 21 Oktober 2011. Menurut dia, setidaknya ada tiga kriteria yang menjadikan sebuah perusahaan atau seseorang menjadi local heroes peranti lunak. Pertama, mereka sudah terjun di dunia bisnis dan berkembang. Kedua, belum masuk ke dunia bisnis, tapi sudah memiliki business plan yang jelas. Ketiga, para pembuat software yang memiliki potensi untuk terus mengembangkannya. Hermawan mencontohkan, ada satu perusahaan software di Tanah Air, PT Intersoft Solutions, yang berhasil menembus pasar Eropa dan Amerika Utara. "Perusahaan ini menjual modul share point untuk membuat aplikasi," ujarnya.
Ada pula Knowledge Center Terpadu yang berbasis komputasi awan yang diterapkan di Provinsi Papua. Portal www.papuadev.info yang berbasis cloud ini dibangun oleh Dinas Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi Provinsi Papua dan Badan Pusat Statistik Papua. Hermawan menjelaskan bahwa Microsoft mendorong masyarakat Indonesia untuk membuat software supaya mereka sadar bahwa peranti lunak pun dapat memberikan penghasilan. "Selain itu juga supaya masyarakat sadar akan Hak Kekayaan Intelektual," katanya. Perusahaan yang didirikan Bill Gates ini menerapkan program DreamSpark sebagai sarana bagi siapa saja untuk dapat membuat peranti lunak. Di Indonesia, program tersebut digelar dengan menggandeng sekitar 15 perguruan tinggi di berbagai daerah, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Bina Nusantara, dan sebagainya. Hermawan, yang baru "datang" dari kantor pusat Microsoft di Redmond, Washington, Amerika Serikat, menyayangkan masih sedikitnya peserta DreamSpark di Indonesia yang jumlahnya "baru" ratusan orang. Sementara di negara-negara, seperti Brasil, Cina, dan India, peserta DreamSpark mencapai ribuan orang. "Bisa jadi karena belum mengetahui informasinya atau belum dapat inspirasi akan membuat software apa," katanya.(RINI KUSTIANI)
Langganan:
Postingan (Atom)


